Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2019

Terlalu Rumit untuk Di Mudahkan

Aku benci hujan. Karena, di situasi itu aku pernah bertemu dengan sosokmu yang entah kenapa seperti tak mengenaliku. Kau patahkan hatiku, seperti kau tak pernah berbuat apa-apa di dalamnya. Kau dalami rasa sedihku dengan perlakuanmu yang setelah tidak denganku, kau seperti bahagia tanpa tahu malu. Aku benci saat semua hal yang kau katakan maupun kau berikan selalu saja teringat meski aku ingin sekali melupakannya dengan cepat. Kau pergi, seperti kita tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Lantas, untuk apa jika semua hal yang kau berikan kemarin? Jika kau pergi tanpa tahu bahwa tanganku masih ingin mencegahmu. Yang kau butuhkan dan yang aku berikan selalu kurang. Mungkin karena kau belum mau menerima. Padahal, aku memberikannya tanpa pernah ada rasa kurang. Selalu aku lebihkan, agar bahagia. Segalanya tak pernah berarti apa-apa di benakmu. Padahal di dunia ini, bahagia mudah di temukan.

None

Menepi saja dulu. Biar hujannya reda. Kita di sini saja ya, menunggu berdua. Kamu gapapa kan? Lalu, hal yang tak pernah aku lupa. Saat kali pertama, kau memberanikan diri menampakkan kaki di depan halaman rumah. Kau memaksa ingin menjemputku, katamu biar bapak ibu ku tahu. Kamu lagi dimana? Engga sibuk kan? Ayo keluar, ada festival buku dan es krim hari ini. Lalu, hal yang juga tidak pernah aku lupa. Saat kali kedua, kau lebih berani lagi membawa ku ketempat yang sangat aku gemari — mungkin kita. Kau dan aku sama-sama suka buku dan es krim. Enak es krim nya tadi? Nanti kalo aku udah sukses, kita ke negara yang membuatnya ya hehe. Aku sayang kamu . Lalu, hal yang juga tidak akan pernah aku lupa. Saat kali pertama juga, kau berkata bahwa kau menyayangiku. Karena, aku tahu kau bukan orang seperti itu. Aku bahagia. Kau tahu? Hal yang membuatku bahagia bukan tentang kata-kata bahwa kau mencintaiku—kalau untuk itu aku bisa lebih darimu. Tapi, hal yang paling membuatku bahag...

Biru Jadi Satu

Bisakah kamu sekali lagi saja, mengucapkan "Hai, apa kabar hari ini?". Aku rindu. Di setiap pertanyaan di setiap chatnya, aku selalu merasa bersyukur saat ternyata kamu juga peduli. Setiap hal yang kamu ceritakan sampai penuhi notifikasi, aku selalu merasa senang saat ternyata kamu juga ingin aku dengarkan. Ayo, katakan sekali lagi. Bagaimana serunya kita, senangnya kita, dan sebahagia apa kita dulu. Ayo, lagi. Aku masih menunggu kamu akan mengucapkan semua itu lagi. Malam selalu tiba, aku masih selalu membaca ulang semua hal itu. Saat rindu ada, aku beranikan untuk menyapamu duluan. Sudah, sudah centang dua. Aku tunggu, sampai mataku tak kuasa menahan kantuk. Paginya, terbangun tapi tak ada balasan juga darimu. Aku sapa kembali—berniat mengucapkan selamat pagi. Ternyata, pradugaku salah. Centang yang aku inginkan biru, berubah menjadi centang satu.

Penggemar Setia Semesta

Pelangi yang indah saja bisa hilang dengan sekejap mata. Apalagi hati yang tidak pernah di restui semesta. Harumnya mawar saja bisa hilang dengan seiringnya dia layu. Apalagi rindu yang tidak pernah berhasil sampai temu. Kicauan burung saja bisa hilang dengan dia semakin jauh. Apalagi jarak yang tidak pernah berhasil bersimpuh. Langit sore pun berhasil mengeluarkan air mata semenjak dia tahu bahwa kesedihan yang sebenarnya ada. Awan putih pun berhasil meredupkan pancarannya semenjak sadar bahwa kesedihan butuh tempat bersandar. Semesta sedang tidak baik-baik saja. Mengetahui salah satu penggemarnya sedang terluka hatinya. Semesta ikut sedih, tapi hanya hujan dan angin yang teduh yang bisa membuatnya sedikit nyaman dan luruh. Tapi, setidaknya semesta sudah berusaha kan? Karena, si penggemar tahu bahwa mengharapkan manusia di sekitarnya tidak akan pernah mampu menenangkannya. Sekarang, dia— si penggemar sedang berada di tengah tanah lapang, dengan hujan yang membasahi tubuhn...