Penggemar Setia Semesta

Pelangi yang indah saja bisa hilang dengan sekejap mata. Apalagi hati yang tidak pernah di restui semesta.

Harumnya mawar saja bisa hilang dengan seiringnya dia layu. Apalagi rindu yang tidak pernah berhasil sampai temu.

Kicauan burung saja bisa hilang dengan dia semakin jauh. Apalagi jarak yang tidak pernah berhasil bersimpuh.

Langit sore pun berhasil mengeluarkan air mata semenjak dia tahu bahwa kesedihan yang sebenarnya ada.

Awan putih pun berhasil meredupkan pancarannya semenjak sadar bahwa kesedihan butuh tempat bersandar.

Semesta sedang tidak baik-baik saja. Mengetahui salah satu penggemarnya sedang terluka hatinya.
Semesta ikut sedih, tapi hanya hujan dan angin yang teduh yang bisa membuatnya sedikit nyaman dan luruh.

Tapi, setidaknya semesta sudah berusaha kan? Karena, si penggemar tahu bahwa mengharapkan manusia di sekitarnya tidak akan pernah mampu menenangkannya.

Sekarang, dia— si penggemar sedang berada di tengah tanah lapang, dengan hujan yang membasahi tubuhnya. Tidak ada petir, tidak ada kilat. Hanya angin yang tidak kencang. Membuatnya tenang dan bisa merasakan kuatnya air hujan menerpa wajahnya.

Setidaknya hujan telah mampu mengelabui segala air matanya. Dan, angin telah mampu menyamarkan segala isakan dan teriakan dari tangisnya.

Hanya butuh semesta tahu. Tidak perlu harus bercerita ke siapa pun. Hanya butuh tipuan segala kesedihan tidak perlu harus di ceritakan bahkan ingin di dengarkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa kabar?

Tulisan Gak Penting

Simbiosis Komensalisme