Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2019

Salahku dan Aku Telah Keliru

Ini salahku. Mengharapkanmu yang memang tak pernah ada rasa untukku. Ini salahku. Terlalu bersemangat jika tak sengaja bertemu denganmu. Ini salahku. Mengira kau ada rasa padaku, padahal aku tahu kau baik ke semua orang. Ini salahku. Mencintaimu, yang di cintai juga oleh sahabatku. Ini salahku. Membayangkan kita bersama, padahal dengan dia kau lebih banyak cerita. Ini salahku. Ingin merebut segala genggaman hangatmu, tapi tak pernah berani untuk menatap sorot matamu. Perkara gagal atau tidak, setidaknya aku sudah tahu. Bahwa untuk mengambil keputusan agar masuk ke dalam dimensi hidupmu, aku tak akan pernah mampu. Karena, buat apa jika semua yang aku tahu saja tidak apa-apanya dengan dia, yang lebih mengertimu— dia sahabatku. Semua keliru, seharusnya tak jadi begini. Harusnya, aku lebih tahu diri , sadar diri, dan intropeksi diri.

Atap Yang Tak Tetap

Aku menyayanginya. Sangat, sangat, dan begitu lekat. Aku mencintainya. Lebih, lebih, dan ringkih. Aku suka pelukannya. Hangat, hangat, dan merasuk hebat. Kau tak akan sepercaya itu—lebih yang aku maksud. Bagaimana kau akan paham, jika yang kau berikan semuanya hanya salah paham? Kau bilang "Aku hanya bercanda" tapi rasanya semua yang kau lakukan tak pernah bercanda. Di taman yang kau janjikan, kau menggenggam tanganku. Kau mencium tanganku, kau mengusap rambutku. Kau merebahkan kepalamu di pundakku. Kau bercerita tentang hari itu. Kau, sifatmu lebih yang aku maksud. Dari caramu menatap, aku kira kau akan bersungguh-sungguh untuk menetap. Ternyata, kau sedang mencari atap di sela itu juga kau mencari pelampiasan yang tak tetap. Yaitu, aku. Sudah aku anggap kau memang pilihan yang tak akan pernah lagi berlalu lalang dan yang ku yakini akan tetap. Ternyata, hanya sebatas teman yang tak lain adalah teman menetap. Masihkah kau bahagia sedangkan aku menangis sedih meronta? ...