Atap Yang Tak Tetap
Aku menyayanginya. Sangat, sangat, dan begitu lekat.
Aku mencintainya. Lebih, lebih, dan ringkih.
Aku suka pelukannya. Hangat, hangat, dan merasuk hebat.
Kau tak akan sepercaya itu—lebih yang aku maksud. Bagaimana kau akan paham, jika yang kau berikan semuanya hanya salah paham?
Kau bilang "Aku hanya bercanda" tapi rasanya semua yang kau lakukan tak pernah bercanda.
Di taman yang kau janjikan, kau menggenggam tanganku. Kau mencium tanganku, kau mengusap rambutku. Kau merebahkan kepalamu di pundakku. Kau bercerita tentang hari itu. Kau, sifatmu lebih yang aku maksud.
Dari caramu menatap, aku kira kau akan bersungguh-sungguh untuk menetap. Ternyata, kau sedang mencari atap di sela itu juga kau mencari pelampiasan yang tak tetap. Yaitu, aku.
Sudah aku anggap kau memang pilihan yang tak akan pernah lagi berlalu lalang dan yang ku yakini akan tetap. Ternyata, hanya sebatas teman yang tak lain adalah teman menetap.
Masihkah kau bahagia sedangkan aku menangis sedih meronta? Masihkah kau tersenyum sedangkan aku meremuk hati sendirian?
Komentar
Posting Komentar