Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2019

Halusinasi

Sekalinya kau berbalik itu hanya sesingkat saat mata kita tak sengaja bertatap. Sangat singkat sampai aku tak tahu, itu memang sapaan atau hanya halusinasiku saja? Yang selalu aku pikirkan hanyalah bagaimana bisa kita yang pernah sebersama itu ingin memulai. Tiba-tiba semua hilang meski belum ada kata usai. Katamu, kita tak akan pernah terpisah. Tapi, apa bisa semuanya berjalan sedangkan kita tak pernah bisa searah? Bahkan hal sekecil itu pun kita permasalahkan. Katamu, kita layaknya angka delapan. Yang selalu utuh, tak pernah runtuh. Sedangkan di kenyataan, semuanya berubah. Kata-katamu sangat indah. Sampai aku tergugu-gugu dan kaku. Mungkinkah? Ternyata, semua hanyalah halusinasiku saja. Mimpiku saja, di bahagiakan olehmu. Padahal, untuk menatap matamu saja aku perlu waktu.

Berbahagialah kamu

Sebagai siapapun di hidupmu, aku tak akan pernah mampu menyamaratakan dia. Aku tak akan pernah bisa menggantikan dia, yang tatap matanya lebih indah dari aku. Yang senyumnya lebih lebar dari aku. Yang setiap saat kau butuh, langsung ada. Aku tidak akan memaksa, silahkan dengannya. Jika itu yang membuatmu tahu bagaimana rasa itu tiba. Kalau denganku, kau tak bahagia. Akan aku coba lupa, meski kau tahu bahwa aku dan kamu belum sampai pada kita. Berbahagialah, aku terakhir. Tersenyumlah, aku nanti. Bukan karena aku terlalu mengikhlaskannya pergi. Tapi, untuk apa dia untukku tapi hatinya sudah ada di orang baru.

Memuakkan

Sudahlah aku ingin melupa. Tak perlu lagi di usik tentang dia sekarang bagaimana, kenapa, dan sama siapa. Aku tidak peduli. Sama sekali tidak. Mau dia ngapain aja, toh dia juga masih milik kedua orang yang membiayai hidupnya, dan dia masih milik semesta. Tolong, jangan lagi kau tanyakan apapun tentang dia ke aku. Aku tidak tahu apa-apa— bahkan sudah tidak mau tahu. Jangan buat hatiku lebih tertekan lagi. Ingat, sekali kau mengingatkan ku tentang dia. Langsung terlintas bagaimana pedihnya perpisahan. Dan, aku tidak mau mengingat itu lagi. Semuanya sudah baru. Dia juga sudah menemukan lagi. Biarlah dia bahagia. Meski aku tidak pernah mengganggunya, tapi tetap saja. Dan, sekali lagi. Tolong, jangan lagi melibatkan dia di dalam hidupku. Dia milik orang lain, dia milik semesta. Rasanya seperti ingin marah. Jika setiap hari, hidupku harus di libatkan olehnya. Aku tidak akan suka. Ini hidupku, kenapa harus di libatkan dengan hidup seseorang. Bahkan yang bukan siapa-siapaku. Semua oran...