Halusinasi

Sekalinya kau berbalik itu hanya sesingkat saat mata kita tak sengaja bertatap. Sangat singkat sampai aku tak tahu, itu memang sapaan atau hanya halusinasiku saja?

Yang selalu aku pikirkan hanyalah bagaimana bisa kita yang pernah sebersama itu ingin memulai. Tiba-tiba semua hilang meski belum ada kata usai.

Katamu, kita tak akan pernah terpisah. Tapi, apa bisa semuanya berjalan sedangkan kita tak pernah bisa searah? Bahkan hal sekecil itu pun kita permasalahkan.

Katamu, kita layaknya angka delapan. Yang selalu utuh, tak pernah runtuh. Sedangkan di kenyataan, semuanya berubah.

Kata-katamu sangat indah. Sampai aku tergugu-gugu dan kaku. Mungkinkah? Ternyata, semua hanyalah halusinasiku saja. Mimpiku saja, di bahagiakan olehmu. Padahal, untuk menatap matamu saja aku perlu waktu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa kabar?

Tulisan Gak Penting

Simbiosis Komensalisme