Antan patah, lesung hilang
Semenyakitkan apa pun aku di matamu tak akan pernah membuatmu berhenti membisu. Semenyakitkan apa pun aku di hadapanmu tak akan pernah membuatmu merentangkan dekapanmu. Semenyakitkan apa pun aku di hidupmu tak akan pernah membuatmu membukakan pintu untukku.
Aku telah berjuang, tapi nyatanya hanya terbuang. Aku telah mencintai, tapi nyatanya hanya dibenci. Aku telah berdoa, tapi nyatanya hanya kosong yang aku punya.
Sehina itu kah aku? Sebenci itu kah kamu? Kenapa hanya luka yang perih yang aku dapat dari cinta yang tak pernah pulih? Kenapa hanya rasa yang merana yang aku dapat dari cinta yang tak pernah terasa? Kenapa hanya batin yang menjerit yang aku dapat dari cinta yang membuat sakit?
Kamu tidak pernah sadar atau enggan menyadari sendiri? Tentu aku akan senang jika kamu mau menyadari. Supaya aku tak terbebani oleh rasa yang semakin dalam semakin tak berarti.
Kamu tidak pernah merasa atau enggan merasai? Tentu aku akan terbuka lebar menerimamu jika kamu sudah merasai bahwa disini aku telah dalam kamu lukai.
Aku lebih buruk dari malam yang egois menunggu datangnya hujan. Kamu lebih baik dari pagi yang merindu datangnya mendung. Aku lebih buruk dari mawar yang rindu akan genggaman tangan. Kamu lebih baik dari matahari yang menyinari alam semesta ini.
Untuk rembulan , aku menginginkan dekapanmu yang menghangatkanku.
Bagai menentang matahari, kamu menyanggah segala persepsi dan terus menunjukkan bahwa kamu layak diungguli.
Untuk semesta, aku merindukanmu yang mengiringi langkahku.
Bagai duri dalam daging, kamu selalu mengakhiri segala sesuatu yang kamu lakukan dengan menyakiti perasaan.
Untuk dunia, aku ingin menghilangkan saja semua rasa. Karena, percuma jika aku kerap berharap, aku kerap berjuang jika hanya membuatku semakin kalap.
Komentar
Posting Komentar